Kampung Glodok Pusat Pembantaian Warga Tionghoa

Kampung Glodok Pusat Pembantaian Warga Tionghoa

Kampung Glodok Pusat Pembantaian Warga Tionghoa – Daerah Glodok sekarang dikenal sebagai kawasan bisnis dengan arus kas yang fantastis. Daerah yang terletak di Tamansari, Jakarta Barat ini sebenarnya memiliki serangkaian peristiwa sejarah gelap pembantaian etnis Tionghoa.

Pembantaian diperkirakan telah menewaskan sekitar 10.000 orang, dengan 500 orang terluka parah, barang-barang mereka dijarah dan sekitar 700 rumah rusak.

Sejarah menunjukkan bahwa wilayah Glodok pada masa kolonial Belanda adalah bekas ruang isolasi etnis Tionghoa. Asimilasi warga Tiongkok telah lama menetap di daerah tersebut. Dikutip dari Jakarta Volume 3 Encyclopedia, diterbitkan oleh PT Lentera Abadi, keturunan keturunan ada bahkan sebelum Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen berkuasa pada 1619.

Namun, warga Tiongkok yang menentang kolonialisme dan memberontak sekitar tahun 1740 membuat penduduk di daerah itu terisolasi dan tidak diizinkan memasuki tembok kota. Namun, daerah itu menjadi desa mereka.

Pembantaian etnis Tionghoa tidak hanya terjadi pada masa kolonial Belanda. Pada tahun 1998, selama transisi dari pemindahan pemerintah pusat dari Soeharto ke BJ Habibie, kerusuhan di sekitar Glodok menyebabkan banyak orang Tionghoa mati, rumah mereka terbakar, dan barang-barang mereka dijarah.

Bahkan, Sungai Angke yang berbatasan dengan wilayah Glodok dikatakan sebagai saksi sejarah pembantaian. Konon, nama Kali Angke diambil dari kata Cina untuk Kali Merah, karena pada saat itu, Kali Angke berubah merah karena banyaknya pertumpahan darah.

Keributan antara penduduk asli dan etnis Tionghoa dimulai ketika sekitar 80 ribu keturunan mencari peruntungan di Batavia. Banyak dari mereka bekerja di pabrik gula, yang pada saat itu merupakan pendapatan  berita sepak bola perkebunan terbesar di Jakarta. Ini dianggap sebagai penyebab perkelahian etnis Cina dengan penduduk asli.

Sekarang, wilayah Glodok telah dikonversi oleh penduduk lokal menjadi pusat bisnis dan memelopori sistem ruko (ruko) yang sekarang sedang diadaptasi oleh banyak penduduk di seluruh Indonesia. Warga biasa menjajakan barang di lantai bawah, sementara mereka tinggal di lantai atas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *